A. Peristiwa
yang Mengiringi Malam Kelahiran Nabi Muhammad SAW
1.
Kesaksian
pedagang Yahudi Makkah dan Yahudi penduduk Yatsrib
Ada seorang pedagang Yahudi yang tinggal di Makkah. Pada malam
kelahiran Rasulullah, dia bertanya di perkumpulan orang-orang Quraisy; apakah
ada anak yang lahir di antara kalian malam ini? Mereka menjawab: kami tidak
tahu.....
Si Yahudi menjelaskan: pada malam ini lahir Nabi terakhir ummat
ini, Ahmad (yang terpuji). Kalau kalian salah, berarti dia (lahir) di
Palestina. Di antara dua pundaknya ada tahi lalat hitam kekuningan.
Setelah mereka pulang ke rumah masing-masing, sebagian dapat kabar
bahwa di malam itu lahir seorang anak dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang
diberi nama Muhammad.
Besoknya mereka bersama si Yahudi mendatangi bayi tersebut. Saat
melihat tahi lalat di belakangnya si Yahudi langsung pingsan. Setelah siuman,
orang-orang Quraisy bertanya: ada apa denganmu? Jawabnya: keNabian telah hilang
dari Bani Israel, al-Kitab telah lepas dari tangan mereka.
2.
Peristiwa
di Persia
Di malam kelahiran Rasulullah SAW, istana Kisra hancur, empat belas
berandanya runtuh, api Persia (sesembahan orang-orang Majusi) yang tidak pernah
padam selama seribu tahun menjadi padam, danau, sawah menyurut.
B. Masa
Kanak-Kanak Nabi Mjhammad SAW
Walaupun masih kanak-kanak, Nabi Muhammad SAW kecil telah memiliki
tanda-tanda bahwa beliau adalah calon Nabi dan Rasul. Pada masa kanak-kanak,
Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan tanda-tanda keNabian.
Ia sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Ketika berusia 5 bulan,
Muhammad sudah bisa berjalan. Pada usia 9 bulan, Muhammad sudah bisa berbicara.
Ketika berusia 2 tahun Muhammad sudah di lepas untuk menggembala kambing
bersama anak-anak Halimah
Pada suatu hari ketika beliau sedang bermain bersama anak-anak
lain, Nabi Muhammad SAW didatangi Malaikat Jibril. Malaikat Jibril memegangi
Nabi Muhammad dan membelah dadanya. Malaikat Jibril mengeluarkan jantung Nabi
Muhammad dan menyingkirkan sebuah gumpalan seraya menyatakan: “inilah bagian
dirimu yang dikuasai setan”. Malaikat Jibril kemudian memandikan Nabi Muhammad
dalam baskom dari emas dengan air dari sumur zam-zam yang suci di dekat Ka’bah,
sebelum menutup kembali dada Beliau.
Teman-teman Nabi berlari mendatangi Halimah sambil menjerit-jerit,
“Muhammad dibunuh!”. Sewaktu mendekati Muhammad, Halimah tampak pucat, dan
terkejut Muhammad baik-baik saja.
Nabi Muhammad adalah Nabi yang terjaga sejak kecil karena beliau
tidak pernah menyembah berhala seperti orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak
pernah makan daging hewan yang disembelih untuk kurban berhala. Nabi Muhammad
juga tidak pernah minum-minuman yang memabukkan, berfoya-foya sebagaimana
kebiasaan orang Arab saat itu.
C. Pengasuhan
Pamannya
Menurut adat kebiasaan, jika bertambah jiwa tentulah bertambah pula
beban dan biaya hidup. Bagi Abu Thalib, lain halnya dari yang lain, bahkan
sebaliknya yang terjadi. Jika dia makan bersama dengann Muhammad, maka makanan
yang sedikit menjadi berat, cukup dan kenyang, tetappi jika makan tak bersama
Muhammad, maka makanan itu berkurang-kurang dirasakannya. Oleh karena itu,
mereka selalu makan bersama Muhammad. Abu Thalib sangat sayang kepada Muhammad
lebih dari menyyangi anaknya sendiri.
Abu Tahlib juga terkejut ketika tahu bahwa perilau anak ini berbeda
dengan perilaku anak-anak lainnya. Tak seperti anak-anak sekitarnya, Muhammad
SAW tak pernah tamak dengan makanan. Tak seperti adat yang berlaku pada masa
itu, Muhammad selalu menyisir rapi rambutnya, dan wajah serta tubuh Muhammad
selalu bersih.
Suwau hari Abu Thalib ingin Muhammad berganti pakaian di hadapan
Abu Thalib sebelum pergi tidur. Si kecil Muhammad tak menyukai keinginan
seperti itu. Namun, karena tak dapat mentah-mentah menolak keinginan pamannya,
si kecil Muhammad meminta pamannya untuk memalingkan mukanya ketika Muhammad
melepaskan pakaiannya. Tentu saja Abu Thalib kaget, karena orang dewasa Arab
sekalipun pada masa itu tak menolak bila diminta telanjang bulat di hadapan
orang lain. Kata Abu Thalib: “aku tak pernah mendengar dia berohong, juga tak
pernah aku melihat dia melakkukan sesuatu yang tak senonoh. Kalau perlu saja
Muhammad tertawa. Dia juga tak ingin ikut dalm permainan anak-anak dia lebih
suka sendirian, dan selalu sopan, rendah hati, dan bersahaja
D. Awan
Menaungi Perjalanannya
Di dalam perjalanan ke Syam, tatkala sampai disuatu tempat yang
bernama Bushra, rombongannya itu bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang
bernama “Buhaira.”
Pendeta Bahira terheran-heran melihat sebuah kafilah dagang yang
datang dari Makkad, kafilah ini sudah sering leeat, tapi kali ini tidak seperti
biasanya. Di atas ereka ada awan yang menaungi perjalanan mereka. Ketika mereka
berhenti di bawah sebuah pohon, awan itu pun berhenti. Pendeta ini memandangi
rombongan ini seakan mencari sesuatu dari mereka dia mendekat, lalu memegang
tangan Muhammad yang masih anak-anak sambil berkata: “ini adalah pemimpin dunia
dan Rasul Tuhan semesta alam, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam
semesta.”
Beberapa sesepuh Quraisy bertany: “engkau tahu dari mana?” , “saat
kalian datang, pohon dan batu menunduk sujud. Kedua-duanya tidak sujud (kepada
manusia) selain kepada seorang Nabi. Dan saya juga mengetahui dia (sebagai
Nabi) dari Khatam an-Nubuwah yang ada di pundaknya...”
Pendeta menjamu makan rombongan Abu Thalib dengan maksud untuk
memperhatikan satu persatu orang yang manakah yang telah membawa tanda-tanda
keNAbiannya itu?
Semula Nabi tidak pergi ke rumah pendeta dan selaku anak kecil dia
tinggal menunggu barang dagangannya itu. Setelah pendeta tidak menemukan yang
di carinya, maka bertanalah dia kepada Abu Thalib: “adakah di antara tua-tuan
yang belum datang kemari?” saya ini akan menjamu semuanya. Sahut Abu Thalib”ada
seorang anak kecil, keponakan saya sendiri, dia sedang menunggu barang
dagangan.” Jawab pendeta itu: “bawalah dia kemari sekalipun dia masih
anak-anak.”
Kemudian Muhammad datang ke tempat pendeta itu. Setelah berhadapan
muka dnegan pendeta, maka pendeta itu memperhatikan gerak-gerik dan sifat-sifat
serta tanda yang dicarinya. Semua itu terdapat pada diri Muhammad.
Maka pendetapun memuji-muji Muhammad dan memberi nasehat kepada Abu
Thalib, supaya anak ini dipelihara baik-baik, karena anak inilah yang akan
menjadi pemimpin ummat dikemudian hari. Andaikata diketahui oleh orang Yahudi,
bahwa anak inilah yang menjadi Rasul di kemudian hari, tentulah mereka berusaha
untuk membunuhnya. Orang Yahudi mempunyai sifat busuk hati, dan mereka
menginginkan orang yang menjadi Rasul itu hendaknya dari kalangan Bani Israil
saja, jangan dari bangsa lain (Arab).
Berita tentang diri Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan menjadi
pemimpin dunia dan Nabi diperkuat dengan tanda-tanda waktu kelahirannya.
Tanda-tanda tersebut diperkuat juga oleh penjelasan pendeta Buhaira.
Keajaiban awan ini sangat terkenal dan telah disaksikan oleh banyak
ornag termasuk Maisarah di saat pergi bersama Muhammad ke daerah Syam membawa
dagangann Khadijah, demikian juga Khadijah, pembantu-pembantu wanitanya, dan
lainnya.
E. Rahim
Khadijah yang Berusia 40 tahun Menjadi Subur
Nabi Muhammad SAW menikah di usia yang ke 25 dengan Khadijah yang
berusia 40 tahun. Seperti biasanya, usia 40 tahun adalah batas masa kesuburan
perempuan. Namun ketika menikah dengan Muhammad, justru rahim Khadijah menjadi
semakin subur. Dari hasil perkawinan yang berkah ini, lahir 6 orang anak yaitu:
Qasim, Ummu Kultsum, Ruqayyah, Zainab, Fatimah, dan Abdullah.
F. Tanda
Kelahiran yang Ada di Antar Dua Pundaknya
Tanda keNAbian yang satu ini disebut dengan Khatam an-Nubuwwah yang
dia bawa sejak lahir. Khatam an-Nubuwwah artinya stempel keNabian. Tanda ini
adalah tahi lalat berwarna hitam kekuning-kungingan. Sebagian ulama mengatakan
disitu tertulis (محمد رسول الله) (Muhammad Rasul utusan
Allah).
Selain keajaiban awan,
tanda ini telah membuat pendeta Buhaira menyuruh Abu Thalib yang sedang
berdagang di Syam untuk segera membawa Muhammad pulang ke Makkah. Sebab, dia
khawatir jika orang-orang Yahudi yang mengetahuinya akan membunuh karena iri.
Tanda ini juga yang dicari
oleh seorang sahabat berkebangsan Persia, Salman Al-Farisy atas wasiat dari
seorang pendeta Kristem Umuriyah, wilayah Romawi. Tanda ini pula diselidiki
oleh Tanukhi atas perintah raja Romawi Timus, yang pada akhirnya membuatnya
masuk Islam.
G. Kabar Para
Nabi dan Kitab-Kitab Sebelumnya
Berita keRasulan Muhammad
SAW disampaika oleh pedangang Yahudi di Makkah, penduduka Yahudi di Madinah,
pendeta Buhaira di wilayah Syam dan pendeta Waraqah bin Naufal di Makkah mengisyaratkan
adanya kabar tersebut dari kitab dan para Nabi dahulu. Tanda-tanda keRAsulan
Muhammad SAW yang diselidiki oleh Salman Al-Farisy atas wasiat seorang pendeta
Kristen Umuriyah dan oleh Tanukhi, utusan raja Romawi Timur di saat itu, juga
semakin memperjelas masalah ini. Namun karena disinyalir kitab-kitab terdahulu
ini telah banyak dirubah oleh tangan-tangan manusia. Berita keRAsulan tersebut
hampir tidak ditemukan lagi sekarang ini.
Tentang adanya pemberitaan
dari Nabi Isa as, Allah SWT menegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَإِذْقَالَ عِيْسَى آبْنُ
مَرَيَمَ يَبَنِى إِسْرَءِيْلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا
لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَىةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولِ
يَأْتِى مِنْ بَعْدِى آسْمُهُ
أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بآِلْبَيِّنَتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
Artinya:
“ Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: wahai Bani Israil,
sesungguhnya aku adalah Rasul utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan
kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan
seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka
tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata,
mereka berkata: “ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaf: 6).
Peristiwa-peristiwa
ini merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar sebagai (utusan)
Allah SWT yang mendapat tugas untuk menyelamatkan umat manusia dari jalan yang
sesat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar